Kenyataan Pahit 5

Mitos "Uang Negara adalah Uang Tak Bertuan"

Psikologi Massa Terhadap APBN

Jika ada copet yang mencuri dompet seorang ibu tua di pasar, warga satu kampung akan mengejarnya, menangkapnya, dan mungkin menghakiminya di tempat. Kemarahan meledak karena ada "korban langsung" yang terlihat menderita.

Namun, jika ada pejabat yang memotong anggaran BPJS Kesehatan sebesar Rp500 Miliar untuk dikorupsi, warga seringkali diam saja. Mengapa? Karena ada ilusi psikologis bahwa "uang negara" adalah uang gaib yang turun dari langit. Karena tidak ada wajah individu yang dompetnya dirampas secara langsung, korupsi dianggap sebagai "kejahatan tanpa korban" (victimless crime).

Kenyataan Pahit: Korupsi Membunuh

Korupsi APBN/APBD bukanlah kejahatan tanpa korban. Ia adalah kejahatan yang korbannya disembunyikan oleh jarak dan waktu.

  • Anggaran jembatan yang di-mark up dan kualitasnya dikurangi, akan menelan korban jiwa saat jembatan itu rubuh tiga tahun kemudian.
  • Dana stunting yang disalahgunakan menjadi biaya rapat dinas berarti mencuri masa depan otak dan fisik ribuan anak miskin.
"Ketika Anda melihat pejabat pamer kemewahan yang tidak sesuai gajinya, ia tidak sedang menggunakan uang dari surga. Ia sedang menghabiskan pajak dari cicilan motor, potongan gaji, dan PPN sembako Anda."

Mengubah Pola Pikir

Peta Kuasa Rakyat mendorong setiap warga untuk mengubah persepsi ini: APBN adalah uang perwalian. Penguasa hanyalah kasir yang dititipi kunci brankas. Kita tidak boleh membiarkan kasir mengambil uang dari laci toko kita dengan alasan "Ah, toko ini kan milik bersama".