Kenyataan Pahit 4

Jebakan Sinisme: "Semua Politisi Sama Saja"

Senjata Pasif Pemusnah Perlawanan

Setelah mengalami berbagai kekecewaan dari pemilu ke pemilu, banyak warga berpendidikan (kelas menengah) jatuh ke dalam satu jurang yang sangat mematikan bagi demokrasi: Apatisme dan Sinisme.

Mantra yang sering mereka ucapkan adalah:

  • "Siapapun yang menang, hidup saya tetap begini."
  • "Semua politisi itu maling, tidak ada bedanya."
  • "Buat apa protes? Suara kita tidak akan didengar, perubahan kecil itu sia-sia."

Kemenangan Terbesar Oligarki

Tahukah Anda siapa yang paling bahagia melihat rakyat menjadi apatis dan sinis? Para politisi korup itu sendiri.

Ketika warga yang teredukasi memilih golput, menolak membaca berita politik, dan menarik diri dari isu publik, elite politik dapat dengan bebas menguras APBN, membagi-bagi proyek, dan membuat undang-undang ngawur tanpa ada satu pun gangguan. Apatisme Anda adalah pelindung utama mereka.

"Sinisme bukanlah tanda bahwa Anda cerdas atau realistis. Sinisme adalah tanda bahwa Anda telah menyerah."

Mengapa "Semua Sama Saja" Adalah Kesalahan Logika?

Mengatakan "semua politisi itu 100% sama jahatnya" adalah kemalasan berpikir. Jika Anda teliti memeriksa data publik (misalnya voting di DPR atau serapan APBD), Anda akan menemukan spektrum. Ada politisi yang sangat merusak (menyedot triliunan rupiah), ada politisi yang korup skala kecil (medioker), dan masih ada segelintir aparatur sipil dan politisi yang mencoba mempertahankan integritasnya di tengah sistem yang busuk.

Tugas rakyat beradab bukanlah mencari "Malaikat Tak Berdosa" untuk memimpin, tetapi memastikan kandidat yang paling buruk tidak berkuasa, dan perlahan memberikan sanksi/skoring elektoral untuk menggeser kualitas politik menjadi sedikit lebih baik dari periode sebelumnya.